Sabtu, 28 Maret 2009

gambut

Lahan gambut tropis meliputi areal seluas 40 juta ha dan 50% diantaranya terdapat di Indonesia (Maltby & Immirizi, 1993). Lahan gambut tersebar di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua). Dewasa ini lahan gambut di Indonesia sudah banyak mengalami pengurangan, baik luasan, penyebaran, maupun kualitasnya. Pengurangan tersebut disebabkan oleh konversi penggunaan lahan, pembalakan liar (illegal logging), dan kebakaran hutan. Kondisi ini jelas menjadi ancaman serius, utamanya bagi penduduk lokal yang menggantungkan sumber penghidupannya pada lahan gambut. .
Apa Itu Gambut ?
Tanah gambut terbentuk dari hasil pelapukan bahan organik terutama sisa-sisa jaringan tumbuhan. Pada tahap awal, proses pengendapan bahan organik terjadi di cekungan di belakang tanggul sungai. Dengan adanya air tawar dan air payau yang menggenangi cekungan, proses pelapukan bahan organik menjadi sangat lambat.Selanjutnya terjadi penimbunan bahan organik secara perlahan dan akhirnya terbentuk endapan gambut dengan ketebalan bervariasi.
Karakteristik Gambut
Gambut adalah sebentuk ekosistem khas yang terdapat di daratan Indonesia . Bahkan, Indonesia seharusnya bangga karena gambut dengan lapisan terdalam di dunia (sekitar 16 meter) ada di Kalimantan, dengan pusatnya di Kalimantan Tengah. Secara ekologis, fungsinya adalah sebagai tempat pemijahan ikan, penyimpan (reservoir) air, penyangga keanekaragaman hayati hutan hujan tropis, habitat orang utan (Pongo pygmaeus), pengendali/penyerap emisi karbondioksida (CO2), dan sumber penghidupan bagi penduduk lokal. Secara taksonomi tanah Gambut (peat soil), disebut Histosol atau Organosol, memiliki bulk density > 0,1 g/cm3 (Widjaja Adhi, 1986). Tanah ini biasanya berwarna coklat, hitam, atau coklat kehitaman dan berpH asam (3 - 4,5). Ditinjau dari biofisik lahan gambut memiliki kendala: Penurunan permukaan gambut (subsidence) jika di drainase; Kering tak balik jika kekeringan (irreversible); Mudah terbakar; pH rendah; Kahat hara makro: P dan K; Kahat hara mikro: Zn, Cu dan B. Terdapat tiga macam bahan organik tanah yang dikenal berdasarkan tingkat dekomposisi bahan tanaman aslinya (Andriesse, 1988 dan Wahyunto et al., 2003), yaitu fibrik, hemik dan saprik.
- Pengelolaan lahan gambut –



Pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan pertanian berdasarkan ketebalan lahan gambut tersebut. Widjaya Adhhi,1995 dalam Tabel 1. menentukan Tipologi lahan gambut dan tipe luapan serta saran penataan
Keterangan tipe luapan :
A, lahan yang selalu terluapi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil,
B, lahan yang hanya terluapi oleh pasang besar,
C, lahan yang tidak pernah terluapi walau pasang besar, air tanah < 50 cm
D, lahan yang tidak terluapi, air tanah lebih dalam dari 5cm






Teknologi Pengelolaan Lahan Gambut
1. Reklamasi lahan → pengelolaan Hidrologi
Drainase lahan untuk mematangkan gambut dengan mengeringkannya sekali-kali, namun jangan dibiarkan menjadi terlalu
kering atau melewati batas kering tak-balik. Akibatnya lahan tersebut tidak dapat ditanami karena tidak dapat menyediakan air untuk keperluan tanaman. Apabila lapisan tanah di bawah gambut merupakan tanah liat, mungkin cukup subur. Tetapi bila di bawah gambut ada pasir, tanah tersebut kurang subur.
2. Ameliorasi → pengolahan tanah, pemupukan, dan pengapuran
pertanian berkelanjutan dalam konteks pertanian lahan gambut berarti sistem pertanian yang berwawasan lingkungan dengan berdasarkan pada kesesuaian lahan, pengawetan lapisan gambut.
teknik pertanian modern yang diperkenalkan adalah pengelolaan air untuk irigasi yang lebih efektif, pemberian bahan tertentu untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, strategi Tanpa olah Tanah dan olah lubang.
penggunaan pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan, akan menambah kadar keasaman dan menyebabkan semakin banyak emisi CO2 yang dilepaskan ke udara. Input yang dianjurkan adalah abu yang dibuat dari sekam padi, rumput alang-alang, atau sisa tanaman budi daya yang dicampur dengan pupuk kotoran ayam.
Konservasi Lahan dengan Teknologi Tradisional "Tepulikampar". Teknologi tinggi tidak harus canggih dan serba modern, tetapi dapat digali dari cara-cara tradisional yang berkembang di masyarakat. Teknologi penyiapan lahan sawah yang diterapkan petani Banjar secara turun-temurun ternyata mengandung kaidah-kaidah konservasi lahan yang bermanfaat dalam mempertahankan kesuburan tanah serta memperbaiki kualitas tanah dan air.

Dampak Pengelolaan yang Tidak Terkendali terhadap Lingkungan
Pemanfaatan lahan gambut sangat terkait dalam kegiatan konversi hutan, industri perkayuan, transmigrasi dan pemukiman penduduk serta perluasan lahan pertanian. praktek yang biasanya diterapkan adalah dengan melakukan deforestasi yang diikuti dengan pembangunan kanal atau saluran drainase untuk mengeringkan air yang tertahan dilahan gambut. Praktek ini jika tidak dikendalikan dengan baik akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan yaitu : terbukanya permukaan tanah terhadap radiasi dan cahaya matahari dampak langsungnya adalah meningkatnya suhu tanah dan turunnya kadar air tanah, menurunnya cadangan Karbon atas-pemukaan dan selanjutnya akan mempengaruhi penyusutan cadangan Karbon bawah-permukaan, dampak tersebut akhirnya akan mengganggu keseimbangan ekosistem akhirnya menimbulkan Perubahan Iklim Global.

Daftar Pustaka
1. -----. 2004. Beberapa Catatan Tentang Pengelolaan Lahan Gambut Di Kalimantan Tengah: Peluang Pengembangan Teknologi Secara Partisipatif. CARE International Indonesia.
2. Donny Dhonanto. 2008. Tak Surut Harapan di Lahan Gambut. Artikel salam SALAM. (staf pengajar Universitas Mulawarman).
3. Widjaja, Adhi, dkk. 1997. Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
4. Murdiyarso, D., Upik Rosalina, Kurniatun Hairiah, Lili Muslihat, I N.N. Suryadiputra dan Adi Jaya. 2004. Petunjuk Lapangan: Pendugaan Cadangan Karbon pada Lahan Gambut. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetlands International– Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia.
5. Adinugroho, W. C., I N.N. Suryadiputra, Bambang Hero Saharjo dan Labueni Siboro. 2005. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetlands International – Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia.
6. Muhammad. 2007. Warta penelitian dan pengembangan pertanian, vol.29 no.2, 2007.


Save Our Earth…








Yuni Lisafitri (E1B050052)
Mahasiswa Fakultas Pertanian UNPAD
Jl.raya jatinangor no.235
yunilisafitri@ymail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar